Rabu, 19 Juni 2019

Penyebab Inflasi Jabar Bulan Mei Capai 0,85%

BADAN Pusat Statistik Jawa Barat mencatat, Jabar mengalami inflasi pada Mei 2019 sebesar 0,85 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 134,51 pada April 2019 menjadi 135,65 pada Mei 2019. Laju inflasi dari tahun ke tahun (Mei 2019 terhadap Mei 2018) tercatat sebesar 3,47 persen.
Kepala BPS Jabar, Dody Herlando mengatakan, dari tujuh kota pantauan IHK di Jabar Mei 2019, seliuruh daerah mengalami inflasi yaitu Kota Bogor (0,58 persen), Kota Sukabumi (0,64 persen), Kota Bandung (0,84 persen), Kota Cirebon (0,37 persen), Kota Depok (0,89 persen), dan Kota Tasikmalaya (0,70 persen), dan Kota Bekasi (1,05 persen).
Baca Juga: harga bangunan per meter
Andil inflasi diberikan oleh Kelompok Bahan Makanan (1,75 persen), Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau (1,04 persen), Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar (0,07 persen), Kelompok Sandang (0,73 persen), Kelompok Kesehatan (0,12 persen), Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olahraga (0,02 persen), dan Kelompok Transportasi, Komunikasi & Jasa Keuangan (1,42 persen).
"Inflasi gabungan Jabar pada bulan Januari-Mei tertinggi terjadi pada tahun 2017 sebesar 1,84 persen dan terendah pada tahun 2015 sebesar 0,22 persen," katanya di Kantor BPS Jabar, Senin (10/6/2019).
Hasil pemantauan harga barang dan jasa selama Mei 2019 tercatat beberapa komoditas mengalami kenaikan/penurunan harga dan memberikan andil inflasi/deflasi cukup siginifikan. Komoditas yang mengalami kenaikan harga dan memberikan andil inflasi antara lain angkutan antarkota, bawang putih, tarif kereta api, cabai merah, daging ayam ras, nasi, kentang, tarif parkir, telur ayam ras, ayam goreng, rendang, kangkung, lontong sayur, sawi hijau, jeruk, teh manis, tarif pulsa ponsel, bayam, dan sewa rumah.
Sementara komoditas yang mengalami penurunan dan memberikan andil deflasi signifikan antara lain bawang merah, beras, tomat sayur, jengkol, bahan bakar rumah tangga, telepon seluler, batu bata, tarif jalan tol, pasta gigi, tempe, dan besi beton.
Selain itu, ekspor Jabar pada April 2019 mencapai USD 2,31 miliar dolar atau turun 7,33 persen dibanding Maret 2019. Ekspor Non Migas April 2019 mencapai USD 2,29 miliar atau turun 6,81 persen dibanding bulan lalu, sedangkan ekspor Migas turun 49,31 persen menjadi USD 15,39 juta.
Untuk nilai impor Jabar April 2019 yaitu USD 1,03 miliar atau naik 17,51 persen dibanding Maret 2019. Impor Non Migas April 2019 yakni USD 0,94 miliar atau naik 13,60 persen dibanding Maret 2019, sedangkan impor Migas Februari 2019 naik 80,27 persen dari USD 51,57 juta menjadi USD 92,97 juta.
Artikel terkait: Harga upah tukang
Impor Non Migas Jabar bulan Maret 2019 terbesar berasal dari Tiongkok senilai USD 332,89 juta, Korea Selatan senilai USD 140,48 juta, dan Jepang senilai USD 129,45 juta. Dengan peran ketiganya mencapai 64,13 persen terhadap total nilai impor Non Migas.
"Secara kumulatif Januari-Maret, impor Barang Konsumsi 18,28 persen, sedangkan impor Bahan Baku/Penolong turun 11,17 persen, termasuk juga impor Barang Modal turun hingga 19,99 persen," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar