Minggu, 12 Agustus 2018

Dampak Globalisasi di Negara Indonesia

Globalisasi suatu hal yg gak bisa lagi dibendung. Satu diantaranya dampak­nya dengan cara langsung yaitu terjadinya pertanda deteri­torialisasi umat Islam. Migrasi serta mobilisasi umat Is­lam dengan cara besar-besaran ke sekian banyak negara maju sep­erti di Eropa serta Amerika, menurut Murad W. Hofmann, eks Direktur Kabar NATO, dalam bukunya " Religion on the Rise, Islam in the Third Millennium, " bakal berikan resiko hegemoni sosial-politik, mengingat Islam ialah metode ajaran kompre­hensif yg menuntut komitmen terhadap penga­nutnya.

Di sekian banyak negara barat ini lahir genera­si ke dua mereka yg terus beragama Islam (the western-born and the second-generation muslim). Dari mana saja serta di mana saja ko­munitas Islam itu ada senantiasa membuat lingkungan sosial unik sebab Mereka memi­liki simbol-simbol perekat (melting pot) beru­pa mesjid, halal food, pendidikan basic kea­gamaan buat anak-anak mereka, serta majlis taklim buat banyak orang-tua.

Baca juga : materi kewirausahaan

Dari satu segi keter­ikatannya dengan negara asal sangatlah kuat kar­ena beberapa tokoh keagamaan kharismatik dari negerinya terus dijalin. Bahkan juga dengan cara periodik tokoh spiritual itu dihadirkan ke negeri baru ini buat berikan pencerahan. Pada segi lain, generasi ke dua muslim ini dituntut oleh negeri baru ini buat berikan komitmen penuh se­bagaimana perihalnya penduduk yang lain yg lahir di negeri itu.

Di sinilah kerumitannya, sebab satu segi dengan cara emosional serta spiritual penduduk muslim tetap masih terikat dengan negeri asal namun dengan cara hukum ketatanegaraan ditempat meng­haruskan mereka buat semuanya setia kepa­da negaranya. Realita umat Islam di negera " ke dua " ini membayar pajaknya terhadap Negara dimana mereka berada, namun zakat harta mereka dikembalikan ke negeri aslinya, bah­kan sejumlah pada mereka tetap menyer­ahkan binatang kurban serta kambing 'aqikah ke negerinya. Sejumlah juga tetap mendirikan rumah di negeri asal termasuk juga dana yg di­kumpulkan diinvestasikan ke negeri aslinya.

Read also : pengertian bioteknologi modern

Pertanda menarik ini dianalisis oleh Oliver Roy dalam karya the best seller-nya, " Globa­lised Islam. " Roy menganalis skema diversity serta uniformitas, pelajari kehidupan individu serta warga masyarakat imigran muslim di Ba­rat. Bagaimana mereka mensiasati kehidupan di barat yg tak sekondusif mobilisasi syari’ah Islam disaat di negeri aslinya. Mereka mesti mengatur lingkungan kerja serta ling­kungan beribadah, mereka mesti mencarikan jalan keluar pada pendidikan agama yg tak bisa di ajarkan anak-anak di sekolah, mereka mesti mengatur penguburan mayat diluar standard adat negeri barunya.

Roy pelajari, pertanda ini berikan deskripsi pluralisme warga imigran mus­lim di sekian banyak negara maju. Satu segi mereka se­bagai penduduk negara dunia Barat namun genetik serta warisan sifat mereka tetap masih leng­ket dengan rutinitas ketimuran serta keislaman­nya. Situasi begini miliki potensi menimbul­kan persoalan politik kenegaraan sebab pada satu segi mereka mesti setia ke negeri kelahi­rannya namun kala bertepatan mereka mesti setia pada metode nilai keagamaan yg menempel pada dirinya sendiri jadi warisan baik dari banyak orang-tua mereka.

Selama dalam mengimplementasikan ke dua nilai terse­but tak muncul persoalan jadi eksistensi imi­gran muslim itu juga tak ada persoalan. Keadaan bisa jadi beda apabila berlangsung disharmoni pada kedua-duanya seperti yg sempat berlangsung dalam da­sawarsa paling akhir ini.

Related post : dampak negatif globalisasi

Resiko serta pertanda imigran muslim di dun­ia Barat telah banyak dikaji oleh banyak pengamat, termasuk juga penulisan buku " Religion and Immigra­tion " yg disusun oleh Y. Y. Haddad serta Jane I. Smith, Jihn L. Esposito. Dalam buku ini dijabarkan lebih mendalam oleh team editornya kalau, ter­masuk memperhatikan pertanda persoalan individu dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan cara indi­vidu ia seseorang muslim yg patuh namun dengan cara berkebangsaan mereka bakal bergaul dengan ang­gota warga yg sejauh ini metode politik, agama, serta kepercayaannya tidak sama bahkan juga condong dipertentangkan.

Ormas-ormas Islam mesti mengkalkulasi serta mengukur berapa jauh resiko globalisasi atau deteritorialisasi umat Islam buat generasi muslim yangakan ada. Saat ini udah waktunya ormas-ormas Islam tak bisa cuma membi­carakan dirinya namun mesti mam­pu menyediakan generasi umat hari depan. Tanpa persiapan umat hari depan kita tak dapat asumsikan bagaimana bentuk serta karak­ter generasi umat hari depan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar