Globalisasi suatu hal yg gak bisa lagi dibendung. Satu diantaranya dampaknya dengan cara langsung yaitu terjadinya pertanda deteritorialisasi umat Islam. Migrasi serta mobilisasi umat Islam dengan cara besar-besaran ke sekian banyak negara maju seperti di Eropa serta Amerika, menurut Murad W. Hofmann, eks Direktur Kabar NATO, dalam bukunya " Religion on the Rise, Islam in the Third Millennium, " bakal berikan resiko hegemoni sosial-politik, mengingat Islam ialah metode ajaran komprehensif yg menuntut komitmen terhadap penganutnya.
Di sekian banyak negara barat ini lahir generasi ke dua mereka yg terus beragama Islam (the western-born and the second-generation muslim). Dari mana saja serta di mana saja komunitas Islam itu ada senantiasa membuat lingkungan sosial unik sebab Mereka memiliki simbol-simbol perekat (melting pot) berupa mesjid, halal food, pendidikan basic keagamaan buat anak-anak mereka, serta majlis taklim buat banyak orang-tua.
Baca juga : materi kewirausahaan
Dari satu segi keterikatannya dengan negara asal sangatlah kuat karena beberapa tokoh keagamaan kharismatik dari negerinya terus dijalin. Bahkan juga dengan cara periodik tokoh spiritual itu dihadirkan ke negeri baru ini buat berikan pencerahan. Pada segi lain, generasi ke dua muslim ini dituntut oleh negeri baru ini buat berikan komitmen penuh sebagaimana perihalnya penduduk yang lain yg lahir di negeri itu.
Di sinilah kerumitannya, sebab satu segi dengan cara emosional serta spiritual penduduk muslim tetap masih terikat dengan negeri asal namun dengan cara hukum ketatanegaraan ditempat mengharuskan mereka buat semuanya setia kepada negaranya. Realita umat Islam di negera " ke dua " ini membayar pajaknya terhadap Negara dimana mereka berada, namun zakat harta mereka dikembalikan ke negeri aslinya, bahkan sejumlah pada mereka tetap menyerahkan binatang kurban serta kambing 'aqikah ke negerinya. Sejumlah juga tetap mendirikan rumah di negeri asal termasuk juga dana yg dikumpulkan diinvestasikan ke negeri aslinya.
Read also : pengertian bioteknologi modern
Pertanda menarik ini dianalisis oleh Oliver Roy dalam karya the best seller-nya, " Globalised Islam. " Roy menganalis skema diversity serta uniformitas, pelajari kehidupan individu serta warga masyarakat imigran muslim di Barat. Bagaimana mereka mensiasati kehidupan di barat yg tak sekondusif mobilisasi syari’ah Islam disaat di negeri aslinya. Mereka mesti mengatur lingkungan kerja serta lingkungan beribadah, mereka mesti mencarikan jalan keluar pada pendidikan agama yg tak bisa di ajarkan anak-anak di sekolah, mereka mesti mengatur penguburan mayat diluar standard adat negeri barunya.
Roy pelajari, pertanda ini berikan deskripsi pluralisme warga imigran muslim di sekian banyak negara maju. Satu segi mereka sebagai penduduk negara dunia Barat namun genetik serta warisan sifat mereka tetap masih lengket dengan rutinitas ketimuran serta keislamannya. Situasi begini miliki potensi menimbulkan persoalan politik kenegaraan sebab pada satu segi mereka mesti setia ke negeri kelahirannya namun kala bertepatan mereka mesti setia pada metode nilai keagamaan yg menempel pada dirinya sendiri jadi warisan baik dari banyak orang-tua mereka.
Selama dalam mengimplementasikan ke dua nilai tersebut tak muncul persoalan jadi eksistensi imigran muslim itu juga tak ada persoalan. Keadaan bisa jadi beda apabila berlangsung disharmoni pada kedua-duanya seperti yg sempat berlangsung dalam dasawarsa paling akhir ini.
Related post : dampak negatif globalisasi
Resiko serta pertanda imigran muslim di dunia Barat telah banyak dikaji oleh banyak pengamat, termasuk juga penulisan buku " Religion and Immigration " yg disusun oleh Y. Y. Haddad serta Jane I. Smith, Jihn L. Esposito. Dalam buku ini dijabarkan lebih mendalam oleh team editornya kalau, termasuk memperhatikan pertanda persoalan individu dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan cara individu ia seseorang muslim yg patuh namun dengan cara berkebangsaan mereka bakal bergaul dengan anggota warga yg sejauh ini metode politik, agama, serta kepercayaannya tidak sama bahkan juga condong dipertentangkan.
Ormas-ormas Islam mesti mengkalkulasi serta mengukur berapa jauh resiko globalisasi atau deteritorialisasi umat Islam buat generasi muslim yangakan ada. Saat ini udah waktunya ormas-ormas Islam tak bisa cuma membicarakan dirinya namun mesti mampu menyediakan generasi umat hari depan. Tanpa persiapan umat hari depan kita tak dapat asumsikan bagaimana bentuk serta karakter generasi umat hari depan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar